![]() |
Foto Google |
EDITORIAL (LIAN TIMOR) - Yang terang buat semua orang ialah, bahwa manusia itu adalah makhluk yang berbadan. Lihatlah saja, bagaimanakah manusia itu menjadi sadar. Karena badannya. Badannya bersatu dengan realitas sekitarnya dan demikian: manusia bangkit, berada dalam suatu "cahaya", dia "melihat" dirinya dan dan barang-barang, dia menempatkan diri, mengerti sini dan sana (semua ini terhadap badan), dia bisa berjalan, bertindak dan sebagainya.
Lihatlah cacat dalam badan juga mengurangi kesadarannya, dan jika cacat itu merusak seluruh keinderaan, manusia juga tidak bisa mengerti dunia. Jadi: berkat badannyalah dia bisa menjalankan dirinya.
Kalau begitu, harus di pandang bagaimanakah badan? Yang pertama: janganlah berkata tentang badan dan jiwa. Ingatlah dulu pengalaman kita yang asli. Di situ manusia tidak memandang badan dan jiwa: subyek pengalaman ialah dia-sendiri juga. Masing-masing dari kita kita berkata: AKU. Dengan itu yang di maksud bukan badan, tetapi juga bukan jiwa.
Manusia tidak sadar tentang jiwa, melainkan tentang aku. Kelak, jika manusia menguraikan kesadarannya, dia berkatan tentang aku dan dadan (bukan jiwa): dia berkata: aku sakit, atau badanku sakit, di sebelah sini atau sana.
Dalam pengalaman dan hidup sehari-hari itu, apakah yang kita lihat? Manusia mengalami diri dan barang-barang: sebagai subyek. Subyek artinya berdiri sendiri, ambil tempat (posisi) dan sikap, jadi menghadapi. Yang di hadapi: diri sendiri dan realitas. Dia menghadapi, jadi punya daya, punya kemampuan, yang menyebabkan dia bisa itu. Barang material tidak bisa meghadapi diri sendiri maupun realitas.
Juga hewan tidak mampu. Maka kemampuan manusia itu kita sebut kemampuan rohani, artinya tidak seperti barang-barang lainnya itu, tidak terbentang, tidak terlipat-lipat, berdimensia tiga. Lihatlah kemampuan itu menyebabkan dia berdiri sendiri, bisa menghadapi diri dan barang lain, dengan sadar. Kemampuan itu juga bisa kita sebut SIFAT.
Maka manusia itu katakan: bersifa Rohani. Jadi seluruh subyek manusia itu bersifat rohani. Jangan kata: Rohani itu di dalam! Tidak! Lihatlah mata manusia! Berlainan dari mata hewan! Lihatlah wajah manusia! Berlainan dari muka monyet! Dalam seluruh "Gestalt" manusia, dalam semua itu nampaklah kerohaniannya.
Bersamaan dengan itu, manusia juga jasmani, artinya MATERN. Dia berat atau ringan, berdarah dan berdaging, bisa lihat secara anatomis, mirip dengan makhluk-makhluk hidup lainnya. Juga kesenangannya, bahagianya, sukarianya, tidak lepas dari barang materi. Pikirkan pun berkecimpungan dalam materi. Kita bisa berkata seluruh manusia itu juga jasmani.